Apakah ini masalah anak kecil jaman sekarang?

Pernah saya khawatir akan teman-teman anak saya di daycare,,

belum lama ini sekitar 2minggu lalu, saya dikejutkan dengan kata-kata yang dikeluarkan oleh seorang anak laki-laki umur 4-5tahunan ke anak saya. 

kebetulan hari itu saya sedang jemput anak saya lebih early dari biasa, disaat saya jemput seperti biasa anak saya langsung menyambut saya dengan lari ke pintu, diikuti anak lelaki ini. bercanda seperti biasa, anak ini seperti dengan bermain kucing-kucingan dan menggelitik perut anak saya. karena saya lihat anak saya pun kegelian, saya sempat menegur untuk menyudahi ini. tapi kata-kata yang dikeluarkan sungguh mengejutkan, mengeluarkan kata (maaf) kemaluan laki-laki dan mencoba menunjuk perut anak saya.

saat kejadian memang hanya ada saya, anak saya dan anak itu. karena para nanny sedang menyiapkan tas anak saya untuk pulang. saking kagetnya saya ceritakan kepada nanny dan langsung menghubungi pemilik daycare.

Alhamdulillah nanny dan pemilik daycare responsive menanggapi hal ini. Selidik punya selidik mereka juga sedikit menginterogasi anaknya, mencoba menanyakan hal ini kpda orang tuanya. apakah memang anak ini punya "penyakit"? atau memang hanya respon sesaat? untungnya memang anak ini hanya respon sesaat karena tidak mengerti apa yang dikatakannya kemarin. tapi pertanyaan lanjutan, kata-kata ini dy dapat dari mana??

Saya sih yay untuk menegur anak orang lain yaa.. yang pasti dengan cara yang baik dan kata yang tidak menyakiti orang tuanya juga. saya juga orang tua yang kalau anak saya ditegur dengan cara yang saya anggap salah pasti saya marah. bagaimanapun anak2 punya caranya sendiri untuk ditegur.

 Tapi saya kadang penasaran juga sama anak yang spt ini, saya melaporkan hal tsb bukan anti dengan anak ini yaa, tapi saya kasihan jika anak seumur ini pemikirannya sudah seputar kemaluan. apalagi jika memang itu bukan karena respon sesaat. kasihan juga anak seumur ini sudah sering mendengar kata tsb dilingkungan sekitar dan menjadi kosakata sehari hari yang notabene bukan untuk sex education. 

Ini yang saya note juga untuk diri saya, apakah saya sudah cukup baik juga untuk menjaga lingkungan anak saya agar tidak terkontaminasi akan hal seperti itu. Karena yang saya sadari bahwa anak umur 2 tahun sedang fase untuk mengikuti apa yang lingkungan sekitar perlihatkan, lalu dipraktekan. tapi saya pun tidak bisa menghindari 100% hal spt ini, walaupun saya pindahkan anak saya untuk  menghindari, belum tentu tempat lain tdk menemui masalah ini. 

Coba kita lihat sekitar, sudah banyak anak kecil yang mengeluarkan kata yang tidak pantas, tapi coba kita balik ke diri sendiri. apa kita sudah mencontohkan yang baik ke mereka yang masih kecil?

REMINDER!!


Saat Istri gak boleh bantu suami, harus gimana?

Pernah gak ngerasa gemes sama keputusan suami??

Tapi apa daya sih sebagai istri yang harus ikut apa yang suami bilang, daripada berujung bencana karena durhaka. ihhh.. amit amit..

Niat baik yang gak diterima emang kadang bikin sebel, apalagi kalau berantem dengan ego masing-masing. gak akan abis... terus apa sih sebenernya yang harus dilakuin istri?

1. Lihat masalah dari sisi prespektif suami. Mungkin hal besar untuk istri, tapi apa ini masalah besar untuk suami? kan belum tentu. karena suami melihat masalah pasti lebih besar cakupan resiko dan dampaknya buat dia, buat istrinya dan buat anaknya. apalagi kalau sudah mencakup keluarga besar kedua belah pihak.

2. Lihat sisi egoisme suami. Pasti semua suami mau dilihat lebih oleh istri dan anak, mau punya kepemimpinan yang baik, mau punya peran besar, mau dipercaya bahwa dia bisa segalanya. Nah, ini yang kadang bikin dia tidak ingin terlihat dibantu oleh sang istri.

3. Lihat dari perasaan suami. Suami pasti ingin yang terbaik untuk keluarganya. Sebisa mungkin akan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan lahir dan batin. Mungkin yang dia butuh bukan tenaga, namun support, perhatian dan kasih sayang yang lebih besar.

Masalah apapun dikeluarga yang berhubungan dengan kehidupan masa depan, mungkin istri pengen banget bantu suami untuk solve this problem. But, mungkin juga ada hal-hal yang mengharuskan kita sebagai istri untuk sabar, berdoa dan menunggu suami kita untuk menyelesaikan segalanya. Dan percaya aja deh, pasti dia pun lakuin yang terbaik yang bisa dia lakuin.

aminn..

Kitchen story

How to deal with "kitchen" !!!

ahahahaa.. terdengar aneh memang, cewek ko gak bisa masak.
iyaaaa.. saya ga bisa. tapi semenjak hidup mandiri sebagai keluarga di post sebelumnya, saya jadi rajin belajar masak. malah saya belajar masak makanan berat rempah. Ahahahaa noraakkk!

Saya baru tau dan hapal nama nama rempah, walaupun blm smua sih. Tapi better than before banget. Sampe masakan santan juga dicoba. Bekelnya cuma liat di mbah google aja resep yang mau dimasak.

Walaupun memang percobaan pertama selalu kebanyakan, yaa kebanyakan garem, kebanyakan air, dan kebanyakan yang lain. Sayangnya ga sampe kebanyakan isi sih 😂😂😂

Pengeennn banget bisa bikin roti. Bikin pastry, pengen masak yg lebih susah dr cm sekedar masak oseng2 kangkung atau goreng ayam. Baru bisa masak sedikit aja saya udh sombong, padahal tiap hari menu juga cuma diputer. Ahahahaa...

Saya pengen masak yang bumbunya itu bumbu bikin sendiri, selain berasa puas dan juga berasa pas. Iya gak sih?  Sempet beli yg sachet, ko agak2 yaaaa jdi aneh. Kann sombong lagii.. ahahahaa

Puas lahh kalo masak sndiri, rasanya pas gak pke komplain.

Hidup Mandiri Sebagai Keluarga




Memulai hidup berkeluarga, sendiri.

Dalam artian akhirnya kami pindah untuk hidup menjalani kehidupan berkeluarga tanpa adanya orang lain dirumah sendiri. kami hidup bertiga! tanpa orang tua, keluarga lain, ataupun ART.

Seneng? iyalahhh.. ini yang saya idam idamkan, hidup mandiri. sebagai istri memang dari dulu saya ingin mengurus mereka (suami dan anak) oleh tenaga dan pikiran saya sendiri. Selama saya hidup dirumah orang tua, saya hidup terlalu enak. semua tersedia. saya bak ratu dan raja dengan adanya satu princess. tapi nggak enaknya? saya nggak bisa mengatur suami dan anak saya bahkan diri saya sendiri.

Contohnya hal kecil saja yang sering saya alami. Tentang makanan. Mungkin senang yaa bangun tidur makan sudah tersedia. Tinggal ambil piring dan kenyang sudah. nggak cape musti mikir besok harus makan apa. Tapi satu sisi disaat saya ingin masak atau jajan sesuatu, seperti sungkan untuk melakukan karena ada makanan lain yang sudah tersedia, lebih tepatnya nggak enak kalo nggak dimakan.

Tapi semenjak pindah, semua saya urus sendiri. Rumah berantakan? selaluuuu. Baju kotor yang menumpuk dan mencuci hanya 2-3 hari sekali. Piring kotor yang dicuci hanya tiap malam. Semua saya lakukan saat anak saya sudah tidur, pengerjaan pekerjaan rumah bisa sampai tengah malam. atau kalau kecapean bisa ditunda besok. hahahaaa... *ketauan males

Saya sangaaatttt bersyukur, suami saya tidak pernah mengeluhkan hal itu. Dy hanya ingin barang yang dia butuhkan udah tersedia saat dy butuh. Mau saya kapan nyucinya, terserah saya. Sebelum masakpun saya tanya suami saya mau makan apa. Jadi terkesan enak karena masak sesuatu yang memang ingin dimakan dan habis.

Anak saya pun senang, mainan bertebaran dilantai. kapan saya beresin? kalau anak saya tidur. Jadi suka suka dy mau buat rumah jadi apa tanpa ada yang komplain kalau rumah berantakan.

Cape? iyalahh.. bayangin aja, pagi harus bangun untuk masak atau nggak jajan sarapan. Belum lagi kalo bangun kesiangan, belum mandi beberes kelengkapan kerja dan daycare anak. Anak pun belum mandi, kita belum, suami udah jerit laper minta sarapan. Belum lagi sebelum ke kantor harus anter anak ke daycare padahal jam kerja udah mepet. Banyak banget kegiatan seru menegangkan, tapi SERU. harus banget capslock karena emang beneran hal yang bikin kita punya tanggungjawab sebagai istri. coba dirumah orang tua, nggak pernah kepikiran kyak begini. seloowwww ajaaa...

Dan lagi saya merasa anak saya lebih lengket sama mama papanya, dan terdidik dengan didikan saya dan suami. Tidak ada interfensi dari pihak manapun, saya dan suami pun bisa melarang dengan tegas tanpa ada yang membela. anak tidak akan memihak kepihak yang lebih baik kepada dirinya. Karena hanya ada dia dan orang tuanya. anakku didikanku.

aaahhhh... saya lagi menikmati capenya hidup seperti ini. saya sukaaaa..

Daycare? Why not!

Sepertinya di cerita sebelumnya saya pernah bilang kalau saya adalah menantu yang tinggal dirumah mertua. Tapi sekarang sudah beda, semenjak seminggu yang lalu saat Tuhan menjawab doa atas cita-cita suami saya untuk jadi pilot. (Alhamdulillahirrabilalamin)

Dari awal pernikahan memang saya dan suami tidak ingin terus berada diantara kedua orang tua, kami mau mandiri. Walaupun memang benar tinggal dirumah orang tua sungguh nikmat rasanya. Sudah menikahpun seperti masih lajang, layak ratu dan raja didalam rumah. Apalagi semenjak anak saya lahir. Urusan saya hanya menemani anak, urusan rumah tangga lain udah urusan mbak dan mama/mama mertua. Sayapun tidak kerepotan dan khawatir saat meninggalkan anak untuk bekerja, lemburpun seperti tidak masalah sama sekali.

Namun, Tuhan selalu baik dan punya rencana indah diwaktu yang tepat. Suami saya akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai pilot di perusahaan saya. Sebagai dukungan istri untuk suami, saya rela untuk mendekatkan tempat tinggal kami dengan tempat suami saya akan melaksanakan training. Kebetulan sudah lama memang saya mendapatkan jatah rumah dinas dari perusahaan. Dan sekaranglah waktu yang tepat untuk menempatinya.

Di lain sisi, hal ini juga jadi awal keprihatinan dan masalah. Mbak saya, yang biasa menjaga anak saya bersama dengan mama mertua, setelah lebaran idul fitri tahun ini tidak pulang lagi untuk bekerja dengan keluarga saya (ceritanya ada dipost sebelah yaa..). Dari awal saya sudah merencanakan akan membawanya ke rumah dinas saya jika memang sudah waktunya saya pindah. Tapi apa mau dikata, saya tidak berjodoh dengannya.

Akhirnya saya coba cari option lain, daycare! kenapa enggak? daycare itu nggak jelek ko. Kebetulan patner kerja saya juga menitipkan anaknya di daycare dekat kantor saya. berpengalaman dari teman saya, saya coba datangi untuk lihat lebih jauh daycarenya. Mungkin memang programnya tidak seperti sekolah daycare pada umumnya di pusat kota jakarta, tapi kesan pertama yang saya dapat itu homey dan islami. untuk fasilitaspun tidak semewah yang saya lihat di jakarta. sepeti rumah biasa, mungkin itu yang saya bilang homey. jadi daycare tapi nggak berasa sekolah.

Mereka lebih kepada penitipan anak dengan pembelajaran nilai nilai kehidupan, seperti bermain untuk berbagi, berkenalan, hingga pembelajaran agama seperti mengajari doa harian, solat berjamaah diwaktu waktu solat dan mengaji setelahnya. Mungkin ini juga yang membuat saya tenang meninggalkan anak di tempat seperti itu.

Mereka menyediakan makan siang untuk anak-anak, menu yang disajikan pun berbeda tiap harinya. Tapi kalau mau bawa dari rumah boleh juga ko.. Karena anak dibawah umur 1 tahun biasanya belum bisa makan seperti anak 1 tahun keatas, itu yang mereka belum sediakan. susu dan diapers dan baju ganti dan kosmetik anak yang biasa dipakai kita siapkan dari rumah.





Sampai sejauh ini, Reva belum terlalu enjoy menikmati keramaian daycare. di hari pertamanya tenang mengexplore segala hal di dalam rumah. tapi mungkin dia sadar kalau disitu bukanlah tempat bermain yang ditemani sang mama dan papa. Hari kedua dan ketiga pun alhamdulillah rewel banget. HAHAHA.. saya sampai bingung. Tapi diapun harus belajar dan tau bahwa disitu adalah rumah keduanya setidaknya unutk beberapa bulan kedepan.
  
Beberapa keluarga dan teman sempat bertanya, Reva diurus siapa dong kalau kamu kerja dan belum ada mbak apalagi mau mulai juga menempati rumah sendiri. Saat saya ucap kata daycare, beberapa punya pendapat yang berbeda. Ada yang bilang "ko mau sih nitipin anak didaycare?!", atau "gak kasian kalo Reva sama orang lain?!" atau kalimat negatif lainnya. Tapi ada juga yang positif kyak mama saya nih yang bikin saya juga yakin kalo Reva akan terbentuk baik di daycare.

"Setiap Daycare pasti programnya bagus, kedepan Reva bakal jadi anak yang sosialisasinya baik karena dari kecil sudah kenal dengan banyak orang dan punya banyak teman. Dia bakal jadi anak kreatif, di daycare pasti ada jam dimana Reva pasti diajarin sesuatu, entah nyanyi atau sekedar pengenalan angka dan huruf. Jadi biarin dia mandiri explore banyak hal dari kecil, enggak cuma dirumah yang selalu disayang yanti, yangkung, oma, opa yang ujung2nya akan selalu dibelain walaupun Reva salah, disana pasti diajarin hal benar dan salah. Apalagi itu daycare islami, semoga Reva kedepannya terbentuk akan sifat islam yang mewajibkan solat dan tau berdoa"

Jadi, DAYCARE?? WHY NOT!

Happy Ied Mubarak 1438H

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438H.

Minal Aidin Walfaidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.


Seperti biasa, setiap lebaran harus banget mudik. Walaupun cuma Bandung, tapi nggak lengkap rasanya kalau nggak mudik. Dalam hidup saya ini, baru satu kali saya nggak mudik, sewaktu masih hamil mudanya Reva. disitu kadang saya merasa sedih. bukan iklan tapi ini BENERAN! Karena nggak nyaman lebaran kalau cuma di Jakarta.











Halal Bihalal pun jadi ajang buat mendekatkan diri lagi, apalagi keluarga saya hampir semua memang di bandung. Sekalian jalan jalan lah yaa..

Tapi nggak ada yang lebih menggalaukan lagi dari apapun di hari lebaran selain Mbak yang nggak pulang lagi. Selama ini cuma denger denger aja dari mommie diluaran sana, baca baca curhatan tapi nggak pernah ngerasain karena mbak dirumah udah 2 kali lebaran selalu pulang. Tapi kali ini beda, sebelum pulang kita sempet ngobrol dan nanya kapan dy akan pulang. Dy pun memastikan hanya seminggu setelah lebaran. Seminggu dan ini sudah hampir 2 minggu dy belum juga pulang tiba-tiba sang penyalur (saya nggak pakai yayasan yaa), bilang kalo si mbak nggak bisa pulang.

KYAK DISAMBER GELEDEK!!!

Saya nggak prepare perasaan ini, saya belum siap karena mbak ini udah deket sama anak saya, saya belum mau ngajarin orang baru karena masih sedikit agak sibuk. dan yang paling buat saya sedih, saya mau pindah kerumah sendiri setelah lebaran utk pisah dari orang tua karena jarak rumah pun dekat dengan kantor, tenyata si mbak yang udah saya percaya nggak balik. saya nggak akan percaya sama orang baru utk ninggalin anak saya untuk waktu dekat.

Walaupun sang penyalur bilang kalo si Mbak nggak balik lagi mungkin karena mau menikah, tapi saya punya kekhawatiran yang berbeda. Apa mungkin dy udah merasa nggak cocok sama keluarga saya, apa saya dan keluarga pernah sengaja atau tidak sengaja menyakiti hati dy sampai dy enggan balik lagi. Jadi banyak pikiran negatifnya, karena si mbak ini semenjak pulang kampung, udah nggak bisa saya hubungin (biasanya gampang ko).

Padahal si mbak ini anaknya rajin, bersih, cekatan, saya sungguh menyayangkan dy ngga balik lagi. ntah kenapa sampai sekarang saya masih berharap dy mau balik. Kalah cintanya sama orang pacaran di putusin deh. Lebih dari itu !! Semua teman saya pun dari dulu iri lihat saya bisa jodoh dengan mbak yang ini karena sudah sulit mencari yang cocok dengan kita.

Tapi dari sini saya jadi belajar lagi menghargai orang yang baik dan kerja keras, belajar untuk menjaga perasaannya lebih lagi. Mungkin jika memang si mbak tetap teguh pendirian untuk nggak balik, saya harus rela untuk melepas orang yang sudah klik dengan saya dan mencari lagi yang baik. Jujur, saya jadi punya penilaian sendri untuk orang baru nantinya karena sempat punya mbak yang menurut saya kerjanya jempolan. Bisa jadi akan sedikit membanding bandingkan. Tapi itulah hidup.. kadang love kadang broken.

*tsaelaaahhhh




Menapaki 2 Tahun Pernikahan



Lamaran  (28 Desember 2014)


 Menapaki 2 tahun pernikahan, ternyata bener kata orang bahwa umur pernikahan 1-5 tahun adalah masa masa belajar, masanya hidup susah. Susah adaptasi, susah keuangan de el el el el.

Sebelum menikah, banyak cita cita yang kepingin diraih. Karir bagus, gaji oke, anak banyak dan sehat terawat, sandang pangan papan yang terpenuhi, kecukupan orang tua terpenuhi nan bahagia. banyak toh? tapi setelah nikah, ternyata mencapai cita cita itu realitanya tidak seindah ekspektasi. *caelahhh..

Mau gaji oke, karir harus mengingkat. Mau karir meningkat, tingkatin produktifitas kerja. Produktifitas meningkat, jarang dirumah ketemu anak. Jarang ketemu anak, BAPER!! ahahahahhaaa... itu sih guweeee bangettttt bisa baper kalo lama ninggalin anak.

Dari awal memutuskan menikah dengan mas IR ini saya jelas sudah tau karakternya seperti apa (walaupun ternyata abis nikah masih banyak yang belum tau. *wink). Kita khususnya saya selalu mengungkapkan apa yang saya mau nanti setelah nikah dan nanya maunya si mas IR. Misalkan, boleh nggak saya kerja? Pekerjaan seperti apa yang boleh dan yang tidak. semacam itulah, jadi setelah nikah nggak ada lagi debat masalah ini.

Soalnya saya tumbuh dengan orang tua pekerja, dan dulu setiap ada pertanyaan mamamu kerja nggak? jadi apa? papamu kerja dimana? saya selalu semangat bercerita. karena saya rasa mereka membanggakan untuk saya ceritakan ke banyak orang. dan karena mereka semua bekerja, saya jadi anak yang cukup mandiri. Jadi saya selalu punya keinginan ingin jadi orang tua yang membanggakan juga untuk anak2 saya kelak. Walaupun realitanya, hati ingin cukup sudah disini saja saya bekerja, saya ingin seluruh waktu untuk keluarga dan anak anak. Disatu sisi, saya butuh pekerjaan ini.

Lain hal dengan mas IR, ia pun punya cita cita terbang tinggi (jet plane), sampai sekarang terbangnya masih rendah aja. kami sedang sama sama membangun mimpi di karir hingga saat ini.cita cita tertinggi memang jadi orang kaya nan bahagia. siapa sih yang nggak mau kehidupannya begitu? sampai tercipta hidup makmur nan sejahtera cita cita harus tetap kami kejar.

Sejauh ini menikah buat saya merupakan pembelajaran meminimalisir egoisme dan emosisme *halahh. Apalagi saya hidup dirumah mertua yang notabene saya yang harus banyak adaptasi dan terima kelebihan serta kekurangan keluarga besar. Berantem sama mertua? pernaaahhhhhhh... Kesel sama mertua, dikeselin mertua, pernaaahhhh.. Apalagi soal perbedaan pendapat cara mengasuh anak. Tapi dari setiap masalah yang ada ini saya selalu belajar sabar. Dari sabar ini saya mulai bisa kontrol emosi dan egois saya. Emosi yang sudah tidak lagi meledak ledak, Egois yang sudah tidak apa2 harus seperti maunya saya. Semua.

Saya dan Mas IR juga masih suka berantem, tapi saya rasa semenjak punya anak fasenya berkurang deh. Biasanya sebulan sekali ada aja yang dikeselin yang disewotin. Tapi sekarang kami ngerasanya udah banyak masalah diluar yang bikin kami pusing kepala, jadi plis setidaknya rumah kami bertiga (saya, Mas IR dan Reva) adem.

Banyak hal yang mau kami raih hingga tahun tahun kedepan, jadi kami selalu mencoba untuk saling menguatkan dan mendoakan. Kesetiaan dan kejujuran kami coba terus pegang hingga sekarang. Visi Misi pernikahan ini adalah bahagia dan sejahtera. Note kami dalam pernikahan ini dari awal adalah Karena sejahtera juga merupakan ujian hidup terbesar dalam pernikahan, maka ingatlah siapa yang selalu disampingmu selama kamu susah.


27 Maret 2015


Happy 2nd Anniversary Mas IR, Love you till Jannah. Amin.