Daycare? Why not!

Sepertinya di cerita sebelumnya saya pernah bilang kalau saya adalah menantu yang tinggal dirumah mertua. Tapi sekarang sudah beda, semenjak seminggu yang lalu saat Tuhan menjawab doa atas cita-cita suami saya untuk jadi pilot. (Alhamdulillahirrabilalamin)

Dari awal pernikahan memang saya dan suami tidak ingin terus berada diantara kedua orang tua, kami mau mandiri. Walaupun memang benar tinggal dirumah orang tua sungguh nikmat rasanya. Sudah menikahpun seperti masih lajang, layak ratu dan raja didalam rumah. Apalagi semenjak anak saya lahir. Urusan saya hanya menemani anak, urusan rumah tangga lain udah urusan mbak dan mama/mama mertua. Sayapun tidak kerepotan dan khawatir saat meninggalkan anak untuk bekerja, lemburpun seperti tidak masalah sama sekali.

Namun, Tuhan selalu baik dan punya rencana indah diwaktu yang tepat. Suami saya akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai pilot di perusahaan saya. Sebagai dukungan istri untuk suami, saya rela untuk mendekatkan tempat tinggal kami dengan tempat suami saya akan melaksanakan training. Kebetulan sudah lama memang saya mendapatkan jatah rumah dinas dari perusahaan. Dan sekaranglah waktu yang tepat untuk menempatinya.

Di lain sisi, hal ini juga jadi awal keprihatinan dan masalah. Mbak saya, yang biasa menjaga anak saya bersama dengan mama mertua, setelah lebaran idul fitri tahun ini tidak pulang lagi untuk bekerja dengan keluarga saya (ceritanya ada dipost sebelah yaa..). Dari awal saya sudah merencanakan akan membawanya ke rumah dinas saya jika memang sudah waktunya saya pindah. Tapi apa mau dikata, saya tidak berjodoh dengannya.

Akhirnya saya coba cari option lain, daycare! kenapa enggak? daycare itu nggak jelek ko. Kebetulan patner kerja saya juga menitipkan anaknya di daycare dekat kantor saya. berpengalaman dari teman saya, saya coba datangi untuk lihat lebih jauh daycarenya. Mungkin memang programnya tidak seperti sekolah daycare pada umumnya di pusat kota jakarta, tapi kesan pertama yang saya dapat itu homey dan islami. untuk fasilitaspun tidak semewah yang saya lihat di jakarta. sepeti rumah biasa, mungkin itu yang saya bilang homey. jadi daycare tapi nggak berasa sekolah.

Mereka lebih kepada penitipan anak dengan pembelajaran nilai nilai kehidupan, seperti bermain untuk berbagi, berkenalan, hingga pembelajaran agama seperti mengajari doa harian, solat berjamaah diwaktu waktu solat dan mengaji setelahnya. Mungkin ini juga yang membuat saya tenang meninggalkan anak di tempat seperti itu.

Mereka menyediakan makan siang untuk anak-anak, menu yang disajikan pun berbeda tiap harinya. Tapi kalau mau bawa dari rumah boleh juga ko.. Karena anak dibawah umur 1 tahun biasanya belum bisa makan seperti anak 1 tahun keatas, itu yang mereka belum sediakan. susu dan diapers dan baju ganti dan kosmetik anak yang biasa dipakai kita siapkan dari rumah.





Sampai sejauh ini, Reva belum terlalu enjoy menikmati keramaian daycare. di hari pertamanya tenang mengexplore segala hal di dalam rumah. tapi mungkin dia sadar kalau disitu bukanlah tempat bermain yang ditemani sang mama dan papa. Hari kedua dan ketiga pun alhamdulillah rewel banget. HAHAHA.. saya sampai bingung. Tapi diapun harus belajar dan tau bahwa disitu adalah rumah keduanya setidaknya unutk beberapa bulan kedepan.
  
Beberapa keluarga dan teman sempat bertanya, Reva diurus siapa dong kalau kamu kerja dan belum ada mbak apalagi mau mulai juga menempati rumah sendiri. Saat saya ucap kata daycare, beberapa punya pendapat yang berbeda. Ada yang bilang "ko mau sih nitipin anak didaycare?!", atau "gak kasian kalo Reva sama orang lain?!" atau kalimat negatif lainnya. Tapi ada juga yang positif kyak mama saya nih yang bikin saya juga yakin kalo Reva akan terbentuk baik di daycare.

"Setiap Daycare pasti programnya bagus, kedepan Reva bakal jadi anak yang sosialisasinya baik karena dari kecil sudah kenal dengan banyak orang dan punya banyak teman. Dia bakal jadi anak kreatif, di daycare pasti ada jam dimana Reva pasti diajarin sesuatu, entah nyanyi atau sekedar pengenalan angka dan huruf. Jadi biarin dia mandiri explore banyak hal dari kecil, enggak cuma dirumah yang selalu disayang yanti, yangkung, oma, opa yang ujung2nya akan selalu dibelain walaupun Reva salah, disana pasti diajarin hal benar dan salah. Apalagi itu daycare islami, semoga Reva kedepannya terbentuk akan sifat islam yang mewajibkan solat dan tau berdoa"

Jadi, DAYCARE?? WHY NOT!

Happy Ied Mubarak 1438H

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438H.

Minal Aidin Walfaidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.


Seperti biasa, setiap lebaran harus banget mudik. Walaupun cuma Bandung, tapi nggak lengkap rasanya kalau nggak mudik. Dalam hidup saya ini, baru satu kali saya nggak mudik, sewaktu masih hamil mudanya Reva. disitu kadang saya merasa sedih. bukan iklan tapi ini BENERAN! Karena nggak nyaman lebaran kalau cuma di Jakarta.











Halal Bihalal pun jadi ajang buat mendekatkan diri lagi, apalagi keluarga saya hampir semua memang di bandung. Sekalian jalan jalan lah yaa..

Tapi nggak ada yang lebih menggalaukan lagi dari apapun di hari lebaran selain Mbak yang nggak pulang lagi. Selama ini cuma denger denger aja dari mommie diluaran sana, baca baca curhatan tapi nggak pernah ngerasain karena mbak dirumah udah 2 kali lebaran selalu pulang. Tapi kali ini beda, sebelum pulang kita sempet ngobrol dan nanya kapan dy akan pulang. Dy pun memastikan hanya seminggu setelah lebaran. Seminggu dan ini sudah hampir 2 minggu dy belum juga pulang tiba-tiba sang penyalur (saya nggak pakai yayasan yaa), bilang kalo si mbak nggak bisa pulang.

KYAK DISAMBER GELEDEK!!!

Saya nggak prepare perasaan ini, saya belum siap karena mbak ini udah deket sama anak saya, saya belum mau ngajarin orang baru karena masih sedikit agak sibuk. dan yang paling buat saya sedih, saya mau pindah kerumah sendiri setelah lebaran utk pisah dari orang tua karena jarak rumah pun dekat dengan kantor, tenyata si mbak yang udah saya percaya nggak balik. saya nggak akan percaya sama orang baru utk ninggalin anak saya untuk waktu dekat.

Walaupun sang penyalur bilang kalo si Mbak nggak balik lagi mungkin karena mau menikah, tapi saya punya kekhawatiran yang berbeda. Apa mungkin dy udah merasa nggak cocok sama keluarga saya, apa saya dan keluarga pernah sengaja atau tidak sengaja menyakiti hati dy sampai dy enggan balik lagi. Jadi banyak pikiran negatifnya, karena si mbak ini semenjak pulang kampung, udah nggak bisa saya hubungin (biasanya gampang ko).

Padahal si mbak ini anaknya rajin, bersih, cekatan, saya sungguh menyayangkan dy ngga balik lagi. ntah kenapa sampai sekarang saya masih berharap dy mau balik. Kalah cintanya sama orang pacaran di putusin deh. Lebih dari itu !! Semua teman saya pun dari dulu iri lihat saya bisa jodoh dengan mbak yang ini karena sudah sulit mencari yang cocok dengan kita.

Tapi dari sini saya jadi belajar lagi menghargai orang yang baik dan kerja keras, belajar untuk menjaga perasaannya lebih lagi. Mungkin jika memang si mbak tetap teguh pendirian untuk nggak balik, saya harus rela untuk melepas orang yang sudah klik dengan saya dan mencari lagi yang baik. Jujur, saya jadi punya penilaian sendri untuk orang baru nantinya karena sempat punya mbak yang menurut saya kerjanya jempolan. Bisa jadi akan sedikit membanding bandingkan. Tapi itulah hidup.. kadang love kadang broken.

*tsaelaaahhhh