saya lupa kapan tepatnya keluarga saya mengundang penulis buku "Ketika Ibu Melupakanku", yang saya ingat masih sebulan atau dua bulan kebelakang.
Eyang Uti saya, umur sekitar 85 Tahun. Pikun.
Beliau pikun bisa dalam kurun waktu 5 menit sekali.
Misal saya berkunjung, salim tanya kabar sambil ditanya saya siapa. trus ambil minum ke dapur, pas balik lagi dy nanya lagi saya siapa.
Eyang saya selalu minta pulang, padahal itu dirumah. semua bingung rumah siapa yang dimaksud. dibawa ke rumah lain tetep minta pulang. gitu weee kadang sampe nangis.
Beliau sering cerita dlu beliau bla bla bla, ga lama ceritanya balik lagi, terkesan ga bisa move on. heheheee..
yang lucu lagi, sering beliau minta ketemu salah satu anaknya katanya mah kangen, padahal yang ditanya ya dia orangnya. trus kita bingung jadi anda siapa? ahahahaa
Saya pernah sempat menonton Dian Purnomo di TV, saya jadi ngerti ada penyakit otak namanya Alzheimer. tapi saya ga tau ternyata salah satu om saya ngundang beliau untuk berbicara didepan seluruh keluarga saya menerangkan bahwa kemungkinan eyang memang Alzheimer.
Sebenernya apa sih resikonya kalo seluruh keluarga tidak ada edukasi ttg hal ini?
1. Penanganan dan perawatan yang tidak tepat.
ternyata orang dengan penyakit Alzheimer perlu penanganan yang tepat, salah salah kita ga tau yang mereka mau lalu emosi berlebihan. Orang dengan penyakit ini sebenarnya butuh kasih sayang yang lebih besar lagi dan pengertian tiada akhir.
2. Emosi yang tidak pada tempatnya.
Keikhlasan dalam mengurus orang dengan penyakit ini benar diuji, kesabaran tiada batas karena butuh ekstra effort, tenaga dan pikiran untuk mereka.
3. Berkelahi dengan saudara
Hal ini terjadi karena ketidaktauan lalu kurangnya sabar sehingga merasa diri lebih lelah dan tidak beruntung karena hrus menjaga orang tsb. Lalu lepas tanggungjawab dan saling menyalahkan.
Dalam kasusnya eyang uti saya, beliau bukan hanya pikun. tapi galak dan sensitif. bisa tiba tiba keluar kamar nangis minta dilindungi karena merasa akan ada yang membunuh. atau malah keluar kamar dengan cacian dan makian yang ntah untuk siapa tapi ditujukan untuk kita.
Lalu datanglah sang pembicara, membuka mata dan pikiran atas penyakit eyang. Bagaimana kita harus menyikapi sikap eyang yang selalu ajaib tiap waktu, dan bagaiman harusnya keikhlasan untuk menjaga eyang dan membahagiakannya di sisa hidupnya.
Saya bersyukur, walaupun eyang saya pikun kategori Alzheimer, tapi beliau sehat walafiat. Semoga eyang selalu merasa bahagia. amin.
terima kasih Mba Dian Purnomo.

